Highlight
Home / Berita / Pertemuan Himab Lhee Sagoe ke-2 bahas Perekonomian Masyarakat
Pertemuan Himab Lhee Sagoe ke-2 bahas Perekonomian Masyarakat

Pertemuan Himab Lhee Sagoe ke-2 bahas Perekonomian Masyarakat

Himab.org | Lamreung – Sejumlah mahasiswa bahas perekonomian masyarakat dengan mengangkat tema “Menggali Potensi Ekonomi Kerakyatan Aceh Besar” yang diselenggarakan Sekretariat PP-Himab di Lamreung, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar (21/9/2018).

Ulul Azmi selaku Ketua Umum PP-Himab mengatakan diskusi yang berlangsung tersebut merupakan program rutin mingguan.

“Ini merupakan program rutin mingguan yang diinisisasikan dan diberi nama “Himab Lhee Sagoe”, diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Aceh Besar (PP-HIMAB). Kita mendiskusikan isu kekinian seputaran pendidikan, sosial serta perekonomian Aceh Besar khususnya serta Aceh, bahkan Nasional”. Pungkasnya Ulul.

Ulul menambahkan dengan terselenggaranya program rutin ini mampu membuka wawasan mengenai permasalahan yang memberikan pandangan serta solusi. Tutupnya Ulul.

Dalam diskusi tersebut, panitia mengahadirkan narasumber Husnul Akhir selaku Ekonom Muda Aceh, Fuad Ridzqi selaku Alumni Ekonomi Pembangunan Unsyiah dan Muttaqin selaku moderator dalam diskusi tersebut.

Husnul Akhir mengatakan delapan sumber dana di Aceh Besar belum mampu memberdayakan ekonomi masyarakat.

“Anggaran di Aceh Besar ada 8 sumber yaitu, APBK, DAU, DAK, DID, Dana Desa, Zakat, Infaq, DOKA (Dana Otonomi Khusus) untuk peberdayaan eknomi masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Namun mengapa hal tersebut masih belum teratasi. Memang ada penurunan Angka kemiskinan dari 15.55% menjadi 15.41%, namun angka tersebut masih tinggi berada diatas rata-rata nasional.” Pungkasnya

“Husnul menyimpulkan bahwa “Kenyataan ini bisa disimpulkan bahwa fokus pemerintah kabupaten pada sektor infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi rakyat belum menjadi agenda strategis. Kedepannya, kita semua berharap ekonomi rakyat harus lebih tumbuh lagi dan semoga masyarakat kita menjadi masyarakat yang produktif dan mandiri.” Ungkapnya Husnul.

“Semua ini tidak terlepas dari peran pemuda terutama mahasiswa yang merupakan agent of changes. Perubahan dapat dimulai dari tingkat gampong melalui partisipasi aktif masyarakt dalam musrembang tingkat gampong untuk menyuarakan program yang pro rakyat.” Tutupnya Husnul.

Disisi lainnya Fuad Ridzqi menyatakan bahwa penguasaan teknologi menghambat kesejahteraan masyarakat.

“Potensi masyarakat yang menjadi permasalahan yang belum bisa mensejahterakan masyarakat itu sendiri, seperti penguasaan teknologi oleh masyarakat yang dianggap masih dinilai kurang, karena di zaman milenial ini masyarakat harus menguasai teknologi informasi dalam segala hal, dan masyarakat masih berjalan secara ekonomi tradisional belum modern, makanya mengakibatkan perekonomian masyarakat di Aceh Besar ketinggalan.” Imbuhnya Fuad

Fuad menyatakan solusi bahwa “Pemerintah harus memberikan akses modal dan program pendampingan atas modal usaha tersebut, karena selama ini setelah diberikan modal kemudian pemerintah lepas tangan, sehingga usaha masyarakat tersebut tanpa monitoring dan evaluasi sehingga menjadi tak terkendali. Pemerintah juga harus memastikan sumberdaya manusia masyarakat Aceh Besar berkualitas dan memilki nilai saing tinggi melalui program pelatihan yang berkesinambungan, maka dengan begitu kita berharap persoalan klasik tentang ekonomi kerakyatan di Aceh Besar dapat teratasi.” Jelas dan Tutupnya Fuad.

*Laporan Fariza

Comments

comments

Comments

About admin

admin
Scroll To Top